Sumpah Pemuda x Fisika Kuantum: Beda Latar, Satu Frekuensi untuk Mengubah Dunia
Yogyakarta, 28 Oktober 2026 – Apa hubungannya Sumpah Pemuda dengan fisika kuantum? Sekilas, keduanya seperti berada di dua dunia yang berbeda. Sumpah Pemuda berbicara tentang persatuan bangsa, sementara fisika kuantum membahas fenomena alam pada skala atom dan partikel. Namun, jika dilihat lebih dekat, keduanya menawarkan pesan menarik: sesuatu yang tampak kecil dapat memberikan dampak besar ketika saling terhubung.
Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai daerah berkumpul dalam Kongres Pemuda Kedua di Batavia (sekarang Jakarta). Mereka datang dengan latar belakang budaya, bahasa, dan organisasi yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak menghalangi mereka untuk menyepakati satu cita-cita bersama: Indonesia yang bersatu. Dari pertemuan itulah lahir ikrar bersejarah yang kini dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Tiga komitmen tentang tanah air, bangsa, dan bahasa persatuan menjadi tonggak penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Bayangkan jika saat itu para pemuda hanya sibuk memperjuangkan kepentingan kelompoknya masing-masing. Barangkali semangat persatuan Indonesia tidak akan tumbuh sekuat yang kita kenal sekarang.
Dari Sumpah Pemuda ke Fisika Kuantum
Menariknya, dunia fisika juga menyimpan kisah tentang bagaimana interaksi dapat menghasilkan fenomena yang luar biasa. Pada 1930, fisikawan Maria Goeppert-Mayer mengembangkan teori mengenai two-photon absorption atau penyerapan dua foton. Melalui teori ini, ia menjelaskan kemungkinan sebuah atom menyerap energi dari dua foton dalam satu proses kuantum. Gagasan tersebut menjadi salah satu landasan penting bagi perkembangan optika nonlinier dan teknologi laser modern.
Tentu saja, persatuan manusia dan interaksi foton merupakan dua fenomena yang berbeda. Namun, keduanya dapat menjadi analogi menarik tentang pentingnya keterhubungan untuk menghasilkan perubahan.
Dalam perjuangan bangsa, para pemuda membuktikan bahwa perbedaan daerah dan identitas bukanlah penghalang untuk bergerak bersama. Sementara dalam sains, interaksi antarpartikel dapat menghadirkan fenomena yang tidak selalu kita jumpai ketika mempelajari masing-masing partikel secara terpisah.
Beda bidang, beda zaman, tetapi ada satu pesan yang bisa kita petik: kolaborasi membuka peluang lahirnya sesuatu yang lebih besar.
Generasi Muda: Jangan Cuma Satu Frekuensi, tetapi Juga Satu Aksi!
Memasuki usia ke-98 tahun Sumpah Pemuda, tantangan generasi muda tentu sudah jauh berbeda. Jika dahulu para pemuda berjuang membangun persatuan di tengah penjajahan, kini generasi muda menghadapi tantangan perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga persoalan lingkungan. Bagi mahasiswa Pendidikan Fisika, semangat Sumpah Pemuda dapat diwujudkan melalui kolaborasi dalam pembelajaran, penelitian, pengembangan teknologi, serta berbagai inovasi pendidikan.
Perbedaan gagasan justru dapat menjadi kekuatan. Mahasiswa tidak harus selalu memiliki pemikiran yang sama, tetapi dapat saling melengkapi untuk menemukan solusi atas berbagai persoalan. Momentum Hari Sumpah Pemuda 2026 menjadi pengingat bahwa generasi muda bukan sekadar penerus sejarah, melainkan juga pencipta perubahan.
Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengajak seluruh mahasiswa dan generasi muda untuk terus belajar, berani berinovasi, menghargai perbedaan, dan menghadirkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Karena pada akhirnya, menjadi generasi muda bukan hanya tentang memiliki banyak ide, tetapi juga keberanian untuk mewujudkannya bersama.
Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026!
Boleh berbeda pemikiran, boleh berbeda pilihan, tetapi untuk kemajuan Indonesia, kita tetap satu tujuan.
Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa: Indonesia.

